Camping ke Sibolangit
Hai... namaku Evan. Ne cerita waktu saya masih kelas 2 SMA.
Ceritanya dimulai ketika kami ikut dalam cara JUMBARA PMR, kalau pramukanya sih mungkin JAMBORE namanya heheh. Kami camping di "Bumi Perkemahan Sibolangit" tepatnya di PTP 9-nya gitu. Kami camping mulai hari Selasa dan pulang di hari Jumatnya. Pada hari Selasa dan Rabunya sih gak ada masalah, aman2 aja.
Keganjilan mulai terjadi ketika di hari Kamis sorenya. Berbeda dengan anak laki2nya, anak perempuan dari sekolah kami tidak diperbolehkan mandi di sungai dengan alasan yang gak di sebutin Kakak pelatih sekaligus penanggung jawab kami di sana. Tapi, salah seorang kakak pelatih berhasil dibujuk dengan sukses oleh para "wanita penghuni kontingen kami" (maksudnya teman-teman kami perempuan gitu, saya bilang kontingen karena kami di sana berlomba kepalang merahan dengan PMR sekolah lain se Sumatera Utara).
Pergilah mereka dan beberapa orang laki2 dari kontingen kami. Kebetulan saya dan beberapa teman lelaki lain tengah membereskan tenda, jadi gak ikutan. Mereka pergi kira2 pukul setengan lima sore. Selesai membersihkan tenda kami pun berangkat ke sungai untuk mandi, kira2 pukul setengah enam sore. Di jalan kami berselisihan dengan mereka (teman-teman kami tersebut), lebih tepatnya melihat mereka (coz beda jalur jadinya gak saling tegur deh (mereka gak ngeliat kami). Kami merasa agak aneh waktu melihat mereka "kayaknya ada yang lain dari biasanya gitu".
Sesampainya di sungai hari sudah gelap. Oh ya kami bisanya mandi di sungai yang ada di PTP 4. PTP itu letaknya dekat kuburan jadi lumayan angker menurut kami. Singkat cerita kamipun bersih2 badan di sungai itu, dan semua merasakan hal yang sama "aneh, gak kayak biasanya", sepertinya suasananya mencekam gitu. Tanpa ambil tempo, kakak pelatih menyuruh kami cepat2 bersih2 lalu pergi dari tempat itu.
Nah waktu di jalan kami berselisihan lagi dengan anak lain yang mau ke sungai itu. Saya melihat salah satu teman saya ikut rombongan itu. Rombongannya perempuan semua, maklum anak SMK dan mereka bukan kontingen PMR kami tapi kami kenal mereka.
Singkat cerita, malampun tiba.. tiba-tiba salah seorang teman prempuan kami diam saja, gak mau ngomong, pandangan kosong (teman kami ini mata batinnya cukup kuat, tapi gak sanggup liat begituan), sampe2 teman-teman cewek kami wiritan di tenda gara2 hal itu. Tanpa banyak cincong, kakak pelatih ambil keputusan, 2 orang lelaki harus tidur di depan tenda perempuan (berjaga2 takut "si kawan" ini keluar dan masuk ke hutan tanpa ada yang tau).
Pagi pun datang, selesai sarapan seorang teman buka cerita tentang kejadian waktu mereka di sungai. Bilang lah nama teman ini si Eka, si Eka ini perempuan yang ikut di rombongan pertama waktu ke sungai. "Semalam woi, baju si Amek ilang, mungkin anyut waktu di sungai", itu katanya. Si Yanda pun ikut ambil suara "Iya, tapi kok gak nampak ya, kalau baju anyut pasti lah nyangkut di batu, di sanakan banyak batu2nya". si Amek juga ikut nyaut "Kalianlah jadi cewek kok lasak kali. Rumbai2 kalian tarik-tarik, marah penghuni disitu, di tegur baru tau rasa".
Dalam hati, kami yang ronde ke dua turun ke sungai dah ambil kesimpulan kenapa situasinya mencekam waktu kami bersih2 disana, kesimpulannya ialah "penghuni di situ marah", di tambah lagi waktu teman kami yang nemeni kontingen lain ke sungai itu buka cerita. "Semalam woi, adek2 anak SMK 8 teriakin aku, (KAK, ITU ADA YANG NGELIATIN KAKAK... MUKANYA ANEH KALI). Waktu kuliat memang kayaknya bukan salah satu rombongan yang ikut denganku, wajahnya pucat dan matanya melotot. Langsung ku ajak adek2 SMK 8 naik ke atas (keluar dari sungai dan pulang ke tenda masing). "Oalah pantes", kata kakak pelatih kami. "Ada yang gak beres ne sama kalian... teman kalian si putri (cewek yang tiba-tiba diam aja dan matanya kosong) itu KENA (kesambet)".
Singkat cerita tibalah waktu kami pulang. Truck yang bakal ngangkut kami juga sudah datang, eh tanpa di sangka si putri pun dah kayak biasa lagi, "gak diem aja dan sudah ceria lagi". ANEH!!!
Setelah keluar dari pegunungan, teman ane Usop angkat bicara "Woi.. kalian mau tau, baju Amek itu bukannya anyut, tapi ilang, ilangnya lenyap gitu.. cliing tiba ilang" katanya serius. "Aku nampak pake mata kepalaku sendiri. Waktu perempuan itu narik2 akar2, kan ada kayu yang jatuh, mata kalian semua tertuju ke kayu yang jatuh itu, pas si Amek juga ngelempar bajunya kebatu. jadi mataku liat baju si Amek sebelum sampe batu.. cliiing ilang. Suer aku gak boong, aku gak mau cerita di sana takut aku kesambet juga, pamali kata emakku cerita seram di tempat seram itu sendiri".
Si putripun angkat bicara juga kenapa diam aja. "Kalian mau tau kenapa aku diam aja. Di samping kananku ada cewek mukanya ancur, samping kiriku ada kakek2. Mau ngomongpun aku takut. Waktu kita mau pulanglah, baru mereka pergi... mereka ngikut aku, ketika kita keluar dari sungai. Mereka marah "Jangan lasak kali kalau ke rumah orang" itu pesan mereka".
Alhamdulliah untung aja penghuni sana ngasih peringatannya gak pake neror segala.
Ceritanya dimulai ketika kami ikut dalam cara JUMBARA PMR, kalau pramukanya sih mungkin JAMBORE namanya heheh. Kami camping di "Bumi Perkemahan Sibolangit" tepatnya di PTP 9-nya gitu. Kami camping mulai hari Selasa dan pulang di hari Jumatnya. Pada hari Selasa dan Rabunya sih gak ada masalah, aman2 aja.
Keganjilan mulai terjadi ketika di hari Kamis sorenya. Berbeda dengan anak laki2nya, anak perempuan dari sekolah kami tidak diperbolehkan mandi di sungai dengan alasan yang gak di sebutin Kakak pelatih sekaligus penanggung jawab kami di sana. Tapi, salah seorang kakak pelatih berhasil dibujuk dengan sukses oleh para "wanita penghuni kontingen kami" (maksudnya teman-teman kami perempuan gitu, saya bilang kontingen karena kami di sana berlomba kepalang merahan dengan PMR sekolah lain se Sumatera Utara).
Pergilah mereka dan beberapa orang laki2 dari kontingen kami. Kebetulan saya dan beberapa teman lelaki lain tengah membereskan tenda, jadi gak ikutan. Mereka pergi kira2 pukul setengan lima sore. Selesai membersihkan tenda kami pun berangkat ke sungai untuk mandi, kira2 pukul setengah enam sore. Di jalan kami berselisihan dengan mereka (teman-teman kami tersebut), lebih tepatnya melihat mereka (coz beda jalur jadinya gak saling tegur deh (mereka gak ngeliat kami). Kami merasa agak aneh waktu melihat mereka "kayaknya ada yang lain dari biasanya gitu".
Sesampainya di sungai hari sudah gelap. Oh ya kami bisanya mandi di sungai yang ada di PTP 4. PTP itu letaknya dekat kuburan jadi lumayan angker menurut kami. Singkat cerita kamipun bersih2 badan di sungai itu, dan semua merasakan hal yang sama "aneh, gak kayak biasanya", sepertinya suasananya mencekam gitu. Tanpa ambil tempo, kakak pelatih menyuruh kami cepat2 bersih2 lalu pergi dari tempat itu.
Nah waktu di jalan kami berselisihan lagi dengan anak lain yang mau ke sungai itu. Saya melihat salah satu teman saya ikut rombongan itu. Rombongannya perempuan semua, maklum anak SMK dan mereka bukan kontingen PMR kami tapi kami kenal mereka.
Singkat cerita, malampun tiba.. tiba-tiba salah seorang teman prempuan kami diam saja, gak mau ngomong, pandangan kosong (teman kami ini mata batinnya cukup kuat, tapi gak sanggup liat begituan), sampe2 teman-teman cewek kami wiritan di tenda gara2 hal itu. Tanpa banyak cincong, kakak pelatih ambil keputusan, 2 orang lelaki harus tidur di depan tenda perempuan (berjaga2 takut "si kawan" ini keluar dan masuk ke hutan tanpa ada yang tau).
Pagi pun datang, selesai sarapan seorang teman buka cerita tentang kejadian waktu mereka di sungai. Bilang lah nama teman ini si Eka, si Eka ini perempuan yang ikut di rombongan pertama waktu ke sungai. "Semalam woi, baju si Amek ilang, mungkin anyut waktu di sungai", itu katanya. Si Yanda pun ikut ambil suara "Iya, tapi kok gak nampak ya, kalau baju anyut pasti lah nyangkut di batu, di sanakan banyak batu2nya". si Amek juga ikut nyaut "Kalianlah jadi cewek kok lasak kali. Rumbai2 kalian tarik-tarik, marah penghuni disitu, di tegur baru tau rasa".
Dalam hati, kami yang ronde ke dua turun ke sungai dah ambil kesimpulan kenapa situasinya mencekam waktu kami bersih2 disana, kesimpulannya ialah "penghuni di situ marah", di tambah lagi waktu teman kami yang nemeni kontingen lain ke sungai itu buka cerita. "Semalam woi, adek2 anak SMK 8 teriakin aku, (KAK, ITU ADA YANG NGELIATIN KAKAK... MUKANYA ANEH KALI). Waktu kuliat memang kayaknya bukan salah satu rombongan yang ikut denganku, wajahnya pucat dan matanya melotot. Langsung ku ajak adek2 SMK 8 naik ke atas (keluar dari sungai dan pulang ke tenda masing). "Oalah pantes", kata kakak pelatih kami. "Ada yang gak beres ne sama kalian... teman kalian si putri (cewek yang tiba-tiba diam aja dan matanya kosong) itu KENA (kesambet)".
Singkat cerita tibalah waktu kami pulang. Truck yang bakal ngangkut kami juga sudah datang, eh tanpa di sangka si putri pun dah kayak biasa lagi, "gak diem aja dan sudah ceria lagi". ANEH!!!
Setelah keluar dari pegunungan, teman ane Usop angkat bicara "Woi.. kalian mau tau, baju Amek itu bukannya anyut, tapi ilang, ilangnya lenyap gitu.. cliing tiba ilang" katanya serius. "Aku nampak pake mata kepalaku sendiri. Waktu perempuan itu narik2 akar2, kan ada kayu yang jatuh, mata kalian semua tertuju ke kayu yang jatuh itu, pas si Amek juga ngelempar bajunya kebatu. jadi mataku liat baju si Amek sebelum sampe batu.. cliiing ilang. Suer aku gak boong, aku gak mau cerita di sana takut aku kesambet juga, pamali kata emakku cerita seram di tempat seram itu sendiri".
Si putripun angkat bicara juga kenapa diam aja. "Kalian mau tau kenapa aku diam aja. Di samping kananku ada cewek mukanya ancur, samping kiriku ada kakek2. Mau ngomongpun aku takut. Waktu kita mau pulanglah, baru mereka pergi... mereka ngikut aku, ketika kita keluar dari sungai. Mereka marah "Jangan lasak kali kalau ke rumah orang" itu pesan mereka".
Alhamdulliah untung aja penghuni sana ngasih peringatannya gak pake neror segala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar